Katanya, orang Indonesia belum makan kalau belum makan nasi. Bagi sebagian orang, termasuk saya, mengisi perut dengan nasi merupakan hal yang wajar dan sering kita lakukan sehari-hari. Nasi hampir pasti selalu jadi bahan pangan yang wajib menemani setiap kali menyantap saat makan berat. Tapi ternyata, tidak semua orang memiliki keistimewaan tersebut.

Kenapa? Sebab pada kenyataannya, masyarakat Indonesia dihadapkan pada timpangnya kemampuan dalam mengakses pangan. Walaupun jadi makanan pokok orang Indonesia, nasi ternyata sulit dijangkau oleh penduduk di Barat Pulau Sumba, setidaknya ini dialami para Ibu rumah tangga yang saya temui.

Dalam sebuah studi di daerah tersebut, saya bertemu dengan Ibu Regina di Camme, Kec. Wawewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dia berkata, ukuran kemakmuran sebuah keluarga adalah kalau mereka bisa makan nasi secara rutin.

Tak heran, harga beras per kilo di sana biasanya mencapai kisaran Rp 11.500 hingga Rp 12.000 untuk beras medium. Angka ini tentunya jauh di atas harga yang ada di Pulau yang relatif lebih maju seperti di Jawa, di mana beras dengan kualitas serupa bisa dibeli dengan harga Rp9.000-Rp10.000.

Harga beras yang relatif mahal membuat masyarakat sekitar mencampurkannya dengan jagung yang harganya relatif lebih murah. Lebih lanjut, Ibu Regina juga bercerita bagaimana ia hidup dan tumbuh dewasa dulu hanya dengan memakan nasi dan jagung jarang sekali ditemani lauk pauk. Apabila dibandingkan dengan saat ini, ia merasa sudah menjadi kewajibannya sebagai ibu untuk mencukupi kebutuhan konsumsi anak-anaknya dengan setidaknya menyediakan lauk seperti sayur dan telur.


Stunting di Sumba

Malnutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi suatu manusia tidak sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Indonesia memiliki masalah malnutrisi yang cukup berat. Indonesia saat ini menjadi negara dengan prevalensi stunting tertinggi ke-4 di dunia. Stunting sendiri adalah salah satu bagian dari malnutrisi, di mana kondisi ini digambarkan dengan pendeknya figur tubuh anak dibawah lima tahun apabila dibandingkan berdasarkan tabel tinggi yang akrab disebut tabel antropometri.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan persentase stunting tertinggi di Indonesia, di angka sekitar 40%, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 30%.

Stunting dapat terjadi karena kurangnya asupan gizi pada ibu hamil dan anak. Ibu yang sebelum melahirkan sudah dalam kondisi kurang asupan gizi, dan kondisi tersebut terus menerus terjadi pada saat hamil dan melahirkan menjadi satu sebab seorang anak menderita stunting. Selain itu, adanya infeksi dan praktik merawat anak yang kurang baik juga memiliki peran terhadap terjadinya stunting.

Tidak seperti penyakit gizi lain yang mungkin dapat terlihat dari postur tubuh tertentu, stunting lebih sulit dideteksi oleh orang tua. Sebab, tinggi-pendeknya seorang anak dalam beberapa kasus lumrah dikaitkan dengan kondisi genetik anak tersebut. Jadi, orang tua acap kali berpendapat bahwa ketika anaknya pendek, itu adalah karena faktor genetik/keturunan.

Sebagai bagian dari daerah NTT, Pulau Sumba juga tidak terkecualikan dari tingginya tingkat stunting. Akses terhadap berbagai jenis makanan juga relatif sulit mengingat tingginya harga pangan yang ada di daerah tersebut. Mimpi Ibu Regina untuk memberi asupan yang lebih baik kepada anak-anaknya dibandingkan pada masa ia kecil dahulu menjadi sulit tercapai. Padahal, apabila kondisi ini dibiarkan, stunting dapat berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Tidak hanya postur tubuh, namun kemampuan kognitif dan kapasitas otak juga relatif lebih rendah. Hal ini pada nantinya, bisa berakibat pada menurunnya produktivitas manusia tersebut. 


Solusi Stunting: Pentingnya Mendorong Harga Pangan Terjangkau

Kasus-kasus stunting seperti ini mungkin tidak hanya ditemui di Pulau Sumba, namun juga di daerah lain di Indonesia. Jika kita menarik kesimpulan sederhana, masyarakat seperti Ibu tersebut secara sederhana dapat digolongkan menjadi masyarakat yang kekurangan asupan makanan. Edukasi secara berkala mengenai cara hidup sehat dan pentingnya makanan bergizi selalu menjadi solusi utama. Tapi, kita perlu menekankan kepada kepastian harga pangan yang terjangkau.  Sebab, tidak jarang ditemukan bahwa edukasi untuk hidup sehat dengan memilih jenis makanan tertentu menjadi percuma, karena memang tidak ada yang sanggup membeli beras ataupun komoditas lainnya dengan cukup.

Ibu Regina mungkin dapat memperkaya asupan nutrisi rumah tangganya dengan membeli lauk pauk yang kaya akan nutrisi seperti dari daging sapi, ayam, susu, dan lain sebagainya apabila harga yang ada di pasaran relatif terjangkau.

Pada intinya, Ibu Regina adalah satu dari sekian ibu yang harus dilindungi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam bentuk dukungan untuk memastikan harga pangan yang lebih terjangkau.

Untuk itulah, lewat Koalisi Hak Makmur (Hak Makan Murah), kami mendorong kerja nyata Pemerintah Indonesia untuk menciptakan harga pangan yang lebih terjangkau. Lewat Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks Bu RT), CIPS memberikan perbandingan data harga komoditas seperti beras dan daging sapi di Indonesia dengan negara-negara tetangga. Kita bisa melihat bahwa, harga pangan negara kita juga bisa terjangkau seperti negara lain. Selain itu,  CIPS juga membuat petisi di Change.org demi mendorong pemerintah mereformasi kebijakan perdagangan pangan lewat Change.org. Sudah 12 ribu lebih masyarakat yang mendukung kampanye yang bisa diakses di bit.ly/hakmakmur ini. Mari tambahkan dukungannya dengan tanda tangan.


Bagikan   

CERITA TERKAIT STORIES