Hai Sobat Hak Makmur. Ini adalah cerita tentang keterlibatan saya dan rekan-rekan tim dalam Kampanye Hak Makmur di bulan November ini. Tim saya terdiri dari lima orang, yaitu saya sendiri Diheim, kemudian ada Hasbi, Tuti, Clara, dan Rivai. Teman-teman tim saya ada yang masih berkuliah di Uhamka, ada yang baru lulus SMA, hingga lulus S2 ITB. Kami adalah 5 dari 18 anak muda yang berkontribusi menjadi relawan Hak Makmur dalam periode ini.

Hari pertama, yaitu pada Selasa 13 November 2018, kami beraktivitas di kantin Universitas Kristen Indonesia. Sejak pukul 09.30, saya dan teman saya, Hasbi, mulai membagikan sejumlah kertas pembungkus makanan berwarna coklat dan juga take away boxdengan lambang HakMakMur kepada para penjual makanan di kantin universitas tersebut. Pedagang-pedagang tersebut kebanyakan menerima dengan senang hati bungkus makanan gratis tersebut, hampir tidak ada yang menanyakan gerakan kampanye HakMakMur karena kesibukan mereka di pagi itu. Satu kantin besar tersebut memiliki sekitar belasan pedagang. Tak lama kemudian setelah pembagian kertas pembungkus makanan, kami bersama Rivai pada jam 10.00 mendatangi mahasiswa-mahasiswi yang sedang menikmati suasana kantin tersebut. Kami berhasil membuat lebih dari dua mahasiswa menandatangani petisi HakMakMur setelah menjelaskan tujuan dari HakMakMur serta memberikan brosur HakMakMur. Hasbi dan Rivai juga berhasil menjelaskan tentang kampanye Hak Makmur pada dua kelompok mahasiswa yang berada di kantin tersebut, dan kami berhasil meyakinkan satu orang dalam kelompok tersebut untuk ikut menandatangani petisi HakMakMur. Ketika berinteraksi dengan mahasiswa, kami memberikan informasi umum mengenai kampanye HakMakMur, akun Instagram HakMakMur, harga indeks bu RT bulan September 2018, serta petisi HakMakMur. Mahasiswa dengan senang hati mendengarkan penjelasan dari kami, beberapa dari mereka ada yang langsung mengambil gadget mereka untuk menandatangani petisi. Sisanya membaca brosur atau hanya mendengarkan penjelasan dari kami. Pada jam 11.30 bersama Tuti dan Clara, kami berhasil menjelaskan kampanye HakMakMur kepada sekitar delapan kelompok mahasiswa dan menggaet beberapa mahasiswa untuk menandatangani petisi HakMakMur. Namun, hanya satu-tiga orang mahasiswa yang antusias menanyakan mengenai asal-usul kampanye ini dan jelasnya seperti apa. Apakah ini juga mengindikasikan bahwa isu harga pangan belum cukup seksi untuk dibicarakan oleh mahasiswa? Di hari itu kami mengakhiri kampanye pada jam 1 siang.

Melanjutkan kegiatan kerelawanan ini, maka di hari Jumat, 16 November 2018, kami mendatangi dua universitas yaitu Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Jayabaya. Sebagai pemimpin kelompok, saya membagi kelompok menjadi dua yaitu Tuti dan Clara di UNJ, sementara saya dan Hasbi di Universitas Jayabaya. Kami memulai aktivitas kampanye setelah acara sholat Jum’at. Saya dan Hasbi membagikan kertas pembungkus makanan di kantin dalam dan luar Universitas Jayabaya mulai dari jam satu siang. Pedagang dengan senang hati dan berterima kasih menerima bungkus makanan gratis dari kami. Satu dari mereka meminta satu pak, lebih banyak dari yang saya biasa berikan. Mereka tidak begitu tergerak menanyakan gerakan HakMakMur ini, terutama karena para pedagang kantin depan Jayabaya yang sibuk. Di hari itu, kami telah membagikan kertas pembungkus makanan kepada sekitar enam pedagang di universitas tersebut. Hanya enam pedagang karena kertas pembungkus makanan kami sudah keburu habis. Sedangkan Cerita di UNJ, Tuti dan Clara mendatangi kelas mata kuliah Bahasa Arab yang sedang rehat untuk membagikan brosur, mengampanyekan hak makmur, serta mengajak mahasiswa untuk ikut menandatangani petisi HakMakMur. Tidak hanya itu, Tuti dan Clara berhasil mengajak mahasiswa dan mahasiswi di kampus tersebut untuk mendengarkan kampanye HakMakMur serta memberikan kertas pembungkus makanan kepada beberapa pedagang di kantin terdekat. Kami mengakhiri kampanye pada jam setengah dua siang.

Melalui aktivitas kerelawanan ini, saya dan teman-teman relawan lainnya belajar bagaimana teknik mengomunikasikan pesan kampanye secara interpersonal, serta bagaimana tetap optimis ketika mengalami penolakan ataupun respon yang kurang positif. Kami semua percaya bahwa kampanye Hak Makmur pantas untuk didukung oleh segenap lapisan masyarakat. Dari pengalaman mengampanyekan Hak Makmur di kampus, saya setuju bahwa harga pangan yang terjangkau akan memberi manfaat kepada pedagang makanan di kantin universitas, dan tentunya mahasiswa yang selama ini lekat dengan image sebagai anak kos.


relawan hakmamur
kertas nasi
harga pangan
Bagikan   

CERITA TERKAIT STORIES