Bu Mariyem terkejut saat membuka karung beras subsidi hasil program Raskin dari Bulog yang dia terima dari kantor kelurahan. “Berasnya kutuan dan remuk. Di karungnya saya juga lihat ada ulatnya tuh. Siapa juga yang mau makan beras seperti ini,” ujarnya kecewa. Bu Mariyem bukan satu-satunya warga yang mendapatkan beras Raskin dengan kualitas buruk di Kelurahan Wates, Kecamatan Kulonprogo, Jawa Tengah. Sebagian besar warga di kelurahan tersebut juga mengeluhkan hal yang sama, apalagi hal ini sudah berulang kali terjadi.

Raskin merupakan salah satu bentuk bantuan sosial dari pemerintah yang dimulai sejak tahun 2002. Tujuannya adalah untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga pra-sejahtera melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi gizi.

Namun selama 14 tahun pelaksanaannya, program raskin belum berjalan maksimal. Berbagai kendala terus terjadi, seperti kualitas beras yang tidak layak konsumsi, ketidaktepatan sasaran, keterlambatan  distribusi, kurangnya koordinasi antar lembaga dalam pendataan dan penyaluran, hingga rawannya penyalahgunaan anggaran program itu sendiri. Padahal di tahun 2016 ini saja, pemerintah sudah menganggarkan hingga Rp 21 triliun atau 26% dari total anggaran subsidi non-energi.

Jika kita lihat lebih cermat, sejatinya yang menjadi akar permasalahan di sini adalah tingginya harga beras di dalam negeri, apalagi kalau dibandingkan dengan harga di pasaran internasonal. Hal ini mengakibatkan sulitnya 96 juta penduduk Indonesia yang miskin dan rentan untuk dapat membeli beras yang mereka perlukan tanpa subsidi pemerintah. Harga rata-rata nasional terkini untuk beras medium mencapai Rp 10.670/kg. Padahal harga beras dengan kualitas yang sama di Thailand yang menjadi referensi Bank Dunia hanya Rp 5.100/kg di bulan November ini.

Oleh karena itu, daripada mempertahankan Program Raskin – yang menyedot dana besar dan dihinggapi berbagai masalah, ada baiknya jika pemerintah mulai mempertimbangkan perdagangan internasional sebagai alternatif untuk menjawab tingginya harga beras di Indonesia. Dana yang tadinya dipergunakan untuk Raskin, dapat dialihkan ke program sosial lain seperti Program Keluarga Harapan – berupa Bantuan Tunai Bersyarat – yang memberikan keluarga pra-sejahtera lebih banyak pilihan dalam pemanfaatannya. Hal ini akan menciptakan pertumbuhan ekonomi  yang lebih inklusif, sehingga diharapkan masyarakat pra-sejahtera seperti Bu Mariyem pada akhirnya mampu membeli beras dengan kualitas yang jauh lebih baik.


Bagikan   

CERITA TERKAIT STORIES